Topik Materi: Strategi Go-To-Market (GTM) Produk AI: Don't Sell AI, Sell the OutcomesNarasumber: Dian Safitri (General Manager di Cipta Medika Indonesia, Vice Chair of Global Business di Medical Informatics Tokyo, Researcher di Matsuo Iwasawa Laboratory University of Tokyo)Sumber Bahan: Speech-to-Text Verbatim (10 Dokumen Transkrip Audio Workshop Penuh 01–10)Status Audit & Pemutakhiran: REVISI MATERIAL TUNTAS (100% Source Fidelity, Zero Distortion, No Unsupported Additions)
Materi dibuka dengan penegasan pentingnya mencatat dan menuliskan ilmu secara aktif. Menimba ilmu agar ilmunya melekat di kepala mensyaratkan pencatatan serta pengaplikasian langsung dalam kehidupan sehari-hari.
Profil akademik dan profesional narasumber diperkenalkan:
Vice Chair of Global Business di Medical Informatics Tokyo (entitas investor yang mengelola portofolio ekspansi teknologi dan investasi di Asia Tenggara dan Asia: Thailand, Filipina, India, Vietnam, dan Indonesia pada sektor kesehatan, edukasi, mobility, dan food).
General Manager di Cipta Medika Indonesia (fokus teknologi kesehatan dan edukasi).
Berafiliasi dengan The University of Tokyo (Matsuo Iwasawa Laboratory — laboratorium AI berfokus pada deep learning dan machine learning), The Greater Hub SBM ITB (Mentor), Ignas Solution / IGnK Solution (Konsultan Inovasi), dan Insight Timur Indonesia (Associate Data).
Sertifikasi: Global Consumer Intelligence & AI Engineering dari The University of Tokyo School of Engineering, Certified Innovation Professional dari Global Innovation Management Institute, dan Certified Change Management dari The American Academy of Project Management.
1.2 Latar Belakang Non-Teknis, Perjalanan Data, dan Skeptisisme AI
Paradoks Pendidikan Formal: Latar belakang pendidikan Dian Safitri adalah Sarjana Hukum (S.H.) dan Magister Hukum (M.H.), bukan lulusan ilmu komputer murni.
Riwayat Karier: Meniti karier di perbankan (banking), firma hukum (law firm), hingga mantan penyanyi profesional (memiliki album di Spotify, tur keliling Indonesia dan luar negeri, beralih ke manajemen artis, dan hingga kini masih menerima royalti musik).
Perjalanan AI: Mulai mendalami dunia data pada tahun 2020 (saat masa pandemi), lalu aktif mengembangkan serta menjual produk AI sejak tahun 2022 (kurang lebih 4 tahun berkecimpung praktis di bidang AI). Tahun 2016 pernah membangun LMS sebelum era Ruangguru/Zenius meledak, yang kemudian pada 2022 diubah formatnya menjadi adaptive learning (basis teknologi Sejawat ID di Cipta Medika Indonesia untuk pembaruan SKP dokter berbasis penyakit).
Posisi Sebagai AI Skeptic: Dian secara terbuka memposisikan dirinya skeptis terhadap euforia AI. Pengalaman nyata yang mendasarinya: saat sedang liburan naik bus dari Singapura ke Malaysia, ia harus menjuri sekitar 30-an esai mahasiswa dalam batas waktu 3 jam tanpa laptop. Saat mencoba memanfaatkan Claude di tablet/iPad via Google Drive, Claude menolak membaca dokumen berekstensi .doc dan meminta diubah menjadi Google Docs. Akibatnya, Dian terpaksa mengonversi 38 file dokumen secara manual satu per satu di perjalanan sambil memaki diri sendiri. Di titik itu ia merasa AI justru membuang waktu dan membodohi manusia karena pengguna yang harus melayani sistem. Sejak insiden itu, ia sempat berhenti memakai AI selama 1 bulan penuh untuk memulihkan critical thinking.